Pengelolaan Keuangan Bisnis Syariah

Pertemuan ini merupakan forum diskusi yang membahas aspek pengelolaan keuangan dari bisnis islami untuk dapat memaksimalkan potensi bisnis dengan baik. Forum ini bersifat terbuka bagi siapa saja yang berkeinginan untuk belajar bersama tentang bagaimana menerapkan prinsip dan peraturan syariat islam dalam pengelolaan bisnis di tengah kehidupan keseharian. Sangat dianjurkan bagi peserta untuk dapat memahami terlebih dahulu aspek dasar hukum islam di bidang muamalah, terutama berkaitan dengan bisnis yang dijalani. Untuk pemahaman dasar ini dapat diperoleh dari kajian rutin IBC (Islamic Business Coaching) atau forum kajian lainnya. Namun demikian, aspek ketentuan syara’ tetap akan dibahas di awal pertemuan dengan pola pembahasan landasan syara’ dan dilanjutkan aspek teknis pengelolaan keuangan bisnis sehingga diharapkan para peserta tetap memahami mulai dari konsepsi hingga teknis implementasi.

Kurikulum Pengelolaan Keuangan Bisnis Islam

  1. Menelusuri dan mengidentifikasi riba di sekitar pengelolaan keuangan bisnis
  2. Membersihkan bisnis dari riba
  3. Pembentukan bisnis islami dan perencanaan permodalan
  4. Persekutuan: pengelolaan, perubahan dan pembubaran syirkah
  5. Pengelolaan sistem keuangan bisnis islami
  6. Penganggaran (budgeting) bisnis
  7. Mengidentifikasi potensi, memaksimalkan pendapatan
  8. Menghitung costdan mengelola pengeluaran
  9. Analisis kinerja bisnis islami
  10. Transaksi dan aqad

Penjelasan dari setiap pertemuan adalah sebagai berikut:

Pertemuan pertama. Pertemuan ini dirancang untuk peserta yang telah memiliki bisnis (atau pernah berbisnis). Pada pertemuan pertama, hal utama yang penting untuk dibahas adalah bagaimana kita bisa mengidentifikasi beragam jenis riba yang telah menjamur dan telah menjadi keumuman di bidang bisnis mampu kita telusuri dan dikenali dengan baik.

Tujuan dari pertemuan pertama adalah para peserta mampu mengidentifikasi apakah dalam pengelolaan keuangan dan bisnis yang selama ini dijalani terdapat unsur dan keterlibatan riba di dalamnya. Jika benar maka seberapa banyak dan bagaimana riba tersebut telah menggerogoti bisnis kita. Pada pengelolaan keuangan, terdapat dua unsur utama pengelolaan yaitu aliran masuk dan keluar dana (cash in and cash out inflow financing). Identifikasi ini sangat tergantung pada jenis bisnis dan aliran proses bisnis (value of chain) yang dijalani. Untuk itu diperlukan pemahaman aspek konsep dasar bisnis hingga teknis atas identifikasi riba tersebut melalui penelusuran riba pada aspek keuangan

Pertemuan kedua. Pertemuan ini merupakan kelanjutan pertemuan sebelumnya. Pada pertemuan ini dibahas bagaimana upaya untuk membersihkan bisnis yang telah dijalani dari aspek riba. Secara prinsip, tidak boleh ada sama sekali aktivitas bisnis beserta aspek pengelolaan keuangannya yang tercampur dengan riba. Hanya saja, keterlibatan riba yang menggurita di dalam perekonomian dan bisnis di sekitar kita menjadikan banyak pihak tidak mampu lepas dari jeratan riba. Keterlibatan riba oleh seorang muslim pada bisnis yang dijalani seringkali tidak disadari (karena ketidaktahuan) atau meskipun telah faham dan sadar tetapi ada juga beragam faktor yang menjadikannya tidak mampu lepas dari jeratan riba yang mengelilinginya. Oleh karena itu diperlukan upaya yang tepat dan syar’I untuk membersihkan riba dari bisnis yang berjalan. Aspek yang cukup vital dan rentan adalah pengelolaan keuangan

Pertemuan ketiga. Pertemuan ini membahas aspek teknis pembentukan bisnis islami dan perencanaan permodalan. Pembentukan bisnis islam dilakukan melalui skema dan ketentuan yang ada dalam syirkah. Oleh karena itu, pemahaman atas jenis (ragam) syirkah dan ketentuan yang melingkupinya (syarat dan rukun) merupakan dasar untuk dapat mengikuti pertemuan ini. Aspek teknis pada bagian ini mencakup bagaimana pencatatan dan perubahan yang terjadi atas beragam syirkah dalam islam. Bagi pemilik, perlu difahami aspek perencanaan modal yang akan digunakan dalam syirkah tersebut. Beragam syirkah memiliki dampak yang berbeda pada aspek keuangan. Adapun bagi pemilik atau pemodal, perlu menghitung dengan tepat kelayakan proyek atau bisnis yang akan dijalani.

Pertemuan keempat. Pertemuan ini merupakan lanjutaan dari pertemuan ketiga yang membahas pembentukan bisnis islami. Pada pertemuan ini akan dibahas beragam kemungkinan adanya perubahan dan dampaknya terhadap pencatatan dan kondisi keuangan syirkah. Termasuk aspek pengelolaan syirkah, seperti pembagian keuntungan dan kerugian, prive dan pengelolaan keuangan bersama. Adapun jika terjadi perubahan kepemilikan maka terdapat prosedur syar’I yang harus dipenuhi, termasuk jika dibubarkan. Beragam kondisi tersebut membutuhkan penataan keuangan yang tepat agar terwujud keadilan dan kejelasan serta ketepatan dalam mengelola keuangan bisnis islami.

Pertemuan kelima. Pertemuan ini memperkenalkan sistem dan penataan keuangan bisnis dasar yaitu pengantar akuntansi. Pada pertemuan ini dikenalkan tentang akuntansi dan pengelolaan informasi keuangan. Bagaimana mekanisme akuntansi bekerja untuk menghasilkan informasi keuangan serta beragam produk informasi keuangan yang dihasilkan, seperti Laporan Laba Rugi, Laporan Perubahan Modal, Laporan Neraca, Laporan Arus Kas (Cash flow), dan lainnya. Sistem Akuntansi dan keuangan ini dapat disesuaikan dengan jenis bisnis yang dijalani

Pertemuan keenam. Penganggaran merupakan tahapan awal yang penting dalam merencanakan bisnis ataupun memulai periode baru bisnis. Penganggaran ini merupakan formulasi teknis target kinerja dan agenda kegiatan dalam bentuk perencanaan keuangan secara rinci. Dengan penganggaran ini diharapkan kegiatan periode depan dapat terencana, terukur dan terarah sehingga meningkatkan efisiensi dan efektivitas bisnis.

Pertemuan ketujuh. Potensi dan pendapatan merupakan dua faktor kunci utama dalam menjalankan bisnis. Pengusaha yang tidak mengetahui potensi bisnisnya tidak akan dapat memaksimalkan pendapatan. Kesuksesan bisnis terletak pada kemampuan mengidentifikasi beragam potensi dan mewujudkannya dalam pendapatan secara optimal. Terkadang banyak yang dapat mengenali potensi bisnis yang dijalano, akan tetapi sedikit yang mampu merealisasikannya dalam bentuk pendapatan yang akan meningkatkan laba usahanya. Oleh karena itu diperlukan kemampuan bagaimana merealisasikan potensi dalam bentuk pendapatan dan cara pengelolaan keuangannya.

Pertemuan kedelapan. Pengelolaan pengeluaran merupakan kunci untuk dapat mencapai efisiensi bisnis. Hanya saja, masih terdapat kesalahan pemahaman bahwa efisiensi itu sekedar ‘mengurangi’ atau meminimalkan biaya. Pengeluaran atau biaya merupakan kondisi mutlak untuk dapat memperoleh pendapatan, akan tetapi pencapaian efisiensi tidak harus mengurangi melainkan dapat mengelola dengan tepat. Oleh karena itu perlu difahami bagaimana dapat menghitung biaya (expense) dan cost dengan tepat serta karakter dan perilaku biaya untuk dapat mengelolanya sesuai kebutuhan bisnis.

Pertemuan kesembilan. Ketercapaian target dan realisasi dari perencanaan atau penganggaran merupakan salah satu indikator kinerja bisnis. Pada pertemuan ini dibahas bagaimana memahami informasi keuangan sebagai pengukuran tingkat kinerja bisnis. Dari hasil pengukuran tingkat kinerja ini akan dapat ditelusur faktor dan kondisi yang mendorong ketercapaian target maupun faktor penghalangnya.

Pertemuan kesepuluh. Terdapat perbedaan antara transaksi yang menjadi dasar pencatatan informasi keuangan dengan aqad yang menjadi dasar pelaksanaan hukum syara’ jual beli. Meskipun keduanya seolah mirip, tetapi perlu dipahami perbedaan dan dampak terhadap bisnis yang dijalani baik aspek ketaatan terhadap hukum syara’ maupun terhadap pengelolaan informasi keuangan.